Arsip untuk Oktober, 2007

31
Okt
07

apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan??

1. jangan buang sampah sembarangan, bawa kantong sampah sementara
2. jangan bakar sampah
3. jangan ngubur sampah
4. pisahkan sampah organik & non, utk kemudahan daur ulang
5. kurangi kantong plastik & semua produk plastik
6. daur ulang sampah, kurangi sampah
7. maksimalkan pemakaian kertas, pake bolak-balik
8. manfaatin kertas bekas buat notepad
9. daur ulang kertas
10. kurangi tisu, ganti pake saputangan/handuk
11. tanam pohon
12. no smoking
13. reduksi pemakaian kendaraan berasap
14. reduksi pemakaian AC
15. jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby
16. pake lampu hemat energi (lampu putih)
17. jangan charge batere overtime
18. (katanya nih) pake versi hitam dari google (blackle.com) untk menghemat pemakean listrik pada monitor kita

disadur dari majalah cewek punya adek saya…

10
Okt
07

Dompet Punia Pura Gunung Payung

Memperhatikan kondisi fisik Pura Dhang Kahyangan Gunung Payung saat ini kami sedang melakukan perehaban dan penataan pura pada wilayah utamaning mandala, yang meliputi perehaban/penataan pelinggih yang telah ada, pembangunan pelinggih baru, dan penataan/pembangunan beberapa bangunan penunjang. Kegiatan ini akan menelan biaya Rp 1.594.130.932 dengan jangka waktu pembangunan 12 bulan (tahun 2007).

Pura Dang Kahyangan Gunung Payung terletak di daerah perbukitan pesisir pantai selatan Pulau Bali, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Denpasar. Secara kewilayahan Pura Dang Kahyangan Gunung Payung berada di wilayah Desa Adat Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Sesuai dengan lokasi pura yang berada di daerah perbukitan maka Pura Gunung Payung sering pula disebut dengan Pura Bukit Payung. Katapayung” yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai payung. Namun pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirarta.

Berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan perehaban dan penataan tersebut, kami sangat berharap umat Hindu di mana pun berada berkenan untuk turut serta membantu mengatasi permasalahan dana yang kami butuhkan

Panitia Pembangunan
Pura
Dang Kahyangan Gunung Payung
Ketua
,
Drs. I Made Wena, M.Si.

Sekretaris
,
I Wayan Mudana, S.T.

Mengetahui
,
Penasehat
Penglingsir
Puri Ageng Mengwi
A.A. Gde Agung, S.H.

Camat
Kuta selatan,
Nyoman
Soka, S.Sos.
Perbekel
Desa Kutuh,

Drs. I Nyoman Mesir

Bendesa Adat Kutuh,

I Wayan Litra

sumber : Surat Pembaca Bali Post

10
Okt
07

Paus Langka Terdampar Lagi

Tabanan (Bali Post) -
Ikan
paus bongkok (Megaptera novaeangliae atau humpback whale) yang terkena jaring di pantai Tanah Lot dalam upaya penyelamatannya sempat terdampar di pantai Kedungu, Kediri, Selasa (2/10) lalu, akhirnya terdampar kembali dalam keadaan telah membusuk Selasa (9/10) kemarin di pantai Kelating, Kerambitan, Tababan. Ikan paus yang tubuhnya sudah rusak itu akhirnya dibakar warga. Terdamparnya ikan paus tersebut sempat ditinjau Bupati Tabanan Adi Wiryatama dan jajaran pejabat lainnya.

Kepala Desa Kelating I Gde Made Suartama menyatakan ikan paus tersebut awalnya diketahui masih terapung-apung di sekitar pantai Kelating oleh nelayan setempat sekitar pukul 05.00 wita. Setelah ombak surut akhirnya terlihat paus tersebut telah terdampar di pantai itu. Warga yang datang mencoba mengambil sedikit dari bagian paus tersebut dengan tujuan untuk digunakan obat. Ada juga yang mencoba mencari bola mata, tetapi tidak ditemukan karena sejak awal sudah terlihat bolong.

Petugas BKSDA Endang HS, yang sebelumnya terlibat dalam upaya penyelamatan paus ini tepat seminggu sebelumnya, setelah memeriksa, memastikan paus ini adalah paus yang sama yang diselamatkan dengan susah payah.

Bupati memerintahkan agar bangkai ikan paus tersebut dibakar supaya tidak menimbulkan masalah lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Sebelum dibakar ikan paus itu diupacarai. (upi)

10
Okt
07

TPA Besakih Dilaporkan ke DPD

Amlapura (Bali Post) -
Tempat
pembuangan akhir (TPA) sampah di Banjar Palak, Besakih dan kasus galian C Yeh Kori, Bebandem, Karangasem dilaporkan masyarakat setempat ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Atas laporan itu, kata salah seorang anggota DPD Dra. IA Agung Mas, Selasa (9/10) kemarin di Amlapura, pihaknya sudah menerjunkan tim ahli untuk mengecek laporan itu.

Terkait TPA di Desa Besakih, masyarakat di sekitarnya tak menerima karena berada di tepi jalan Ida Betara Besakih masucian ke Yeh Sah, Batusesa. Hal itu dikhawatirkan ke depan mencemari kesucian wilayah. Sejak ada TPA, warga di sekitarnya terganggu bau busuk sampah dan banyaknya lalat hijau. Selain itu, TPA lebih dari 30 are itu juga menyebabkan alih fungsi lahan. Padahal warga masih menginginkan lahan itu untuk pertanian. Apalagi Subak Manik Gumawang yang mewilayahi TPA itu dulu pernah juara I tingkat propinsi. Menurut masyarakat setempat, mereka menginginkan lahan itu tetap untuk pertanian,” ujar Agung Mas.

Seperti pernah diberitakan, masyarakat di sekitar TPA menolak keberadaan TPA tersebut dengan dukungan tanda tangan ratusan warga. Sampah yang dibuang ke sana ternyata juga dari luar Besakih, tak seperti dijanjikan sebelumnya, hanya sampah atau saagan dari Pura Besakih. Sementara yang dibuang ke sana sampah rumah tangga berupa sampah plastik.

Di pihak lain, Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan karena ditolak warga di sekitarnya, keberadaan TPA itu ditinjau kembali. Bukan lagi sebagai TPA, tetapi tempat pembuangan sampah sementara dari lingkungan Besakih. Nantinya bakal diupah dua pekerja untuk memilah sampah plastik dan organik. Saya sudah sarankan agar keliling areal itu ditembok, sehingga sampah tak meluber ke luar,” katanya.

Terkait galian C Yeh Kori, katanya, sampai kini Bupati belum mengeluarkan Surat Izin Penambangan Daerah (SIPD). Terkait adanya oknum yang sudah melakukan penggalian pasir dan pengangkutan, tim yang sebelumnya mensurvai rencana galian C itu diminta lebih sering turun ke lokasi untuk melakukan penertiban.

Agung Mas mengatakan keberatan warga dari bagian bawah seperti dari Pagubugan, Selat, atau Bambangbiaung karena ke depan dikhawatirkan menyebabkan bencana alam banjir, mata air mengecil atau kekeringan. Berdasarkan Perda Bali, daerah ketinggian seperti di Yeh Kori untuk resapan air hujan, bukan untuk dirusak atau galian C. (013)

10
Okt
07

Proyek Pedestrian Jalan Kamboja Terancam Molor

Denpasar (Bali Post) -
Proyek
pedestrian Jalan Kamboja Denpasar kembali disorot jajaran DPRD Denpasar. Pasalnya, selain dikhawatirkan molor, jumlah tenaga kerja untuk menggarap proyek senilai Rp 920 juta tersebut tidak seimbang. Kondisi ini akan mempengaruhi penyelesaian proyek yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Hal tersebut mengemuka saat Komisi B DPRD Denpasar melakukan sidak ke proyek tersebut, Selasa (9/10) kemarin. Sidak yang dipimpin Ketua Komisi Ir. I.B. Gede Udiyana diikuti Ir. Ketut Sugiata, A.A. Putu Wijaya, S.H., I Ketut Suarka, S.H. dan Ir. A.A. Bagus Sudewa. Mereka diterima Direktur CV Wira Karya Sari I Made Sukana (pelaksana) dan Konsultan Perencana Ngurah Putrawan.

Udiyana melihat proyek yang berada di jalur padat lalu lintas tersebut seharusnya mendapat penanganan yang baik. Apalagi menjadi pilot project pedestrian selanjutnya. Sayangnya, pihaknya melihat jumlah tenaga kerja dibandingkan dengan volume pekerjaan tidak seimbang. Kenapa jumlah pekerjanya sedikit sekali?” tanyanya.

Menanggapi keluhan Dewan, Sukana mengakui saat ini banyak pekerja yang libur karena hendak pulang kampung merayakan Lebaran. Namun, melihat waktu yang ada, pihaknya optimis bisa mengejar ketertinggalan pengerjaan proyek dimaksud.

Sukana mengakui sampai saat ini memang terjadi keterlambatan pengerjaan sekitar 10 persen. Untuk mengejar ketertinggalan itu, pada saat liburan sekolah ini jalur di kawasan itu akan ditutup total, sehingga pekerja bisa dilemburkan untuk mengerjakan proyek tersebut. Kami yakin bisa menyelesaikan proyek ini sebelum jatuh tempo, yakni 15 November 2007 mendatang,” katanya.

Udiyana bersama rekan-rekannya di Komisi B kembali mengingatkan kepada pelaksana proyek agar tidak mengabaikan kualitas. Misalnya, paving yang masih basah jangan sampai dipasang karena bisa retak saat dilalui kendaraan. (kmb12)

10
Okt
07

RS Sanglah Kembali Terima Pasien ”Suspect” Flu Burung

Denpasar (Bali Post) -
Setelah
reda selama hampir sebulan, Selasa (9/10) kemarin, RS Sanglah kembali menerima pasien yang suspect (dicurigai) menderita flu burung. Pasien bernama Rohil Anwar (15), warga Jalan Waturenggong Denpasar. Ia merupakan kiriman dari RS Dharma Usadha.

Menurut penuturan sang ayah, Santoso, anak sulungnya yang masih duduk di kelas satu SMA ini tidak pernah ada kontak dengan unggas. Di rumah kami tidak memelihara ayam,” ujar Santoso ketika ditemui di Ruang Nusa Indah RS Sanglah, Selasa (9/10) kemarin. Anaknya, menurut Santoso, beberapa hari terakhir ini memang sering keluar malam. Selain itu, selama bulan puasa ini Rohil jarang sahur. Sementara ibu Rohil, Ketut, mengatakan anak lelakinya itu sakit sejak Sabtu (6/10) lalu, yang merasakan badannya tidak enak. Padahal menurut Santoso, Rabu (10/10) ini ia dan keluarganya berencana untuk pulang kampung ke Blitar, Jawa Timur merayakan Lebaran.

Menurut Kepala Penanganan Flu Burung RS Sanglah, dr. Wayan Andrika, Sp.PD., kondisi Rohil masih dalam observasi. Pasien tidak pernah kontak dengan unggas. Terjadi kerusakan progresif pada paru-paru sekitar 75%. Suhunya sudah turun menjadi 37øC. Sampel darah sudah diambil dan tinggal menunggu hasilnya,” jelas Andrika.

 

Dievakuasi

Sementara itu, Ruang Nusa Indah RS Sanglah sejak Senin (8/10) lalu menerima pasien umum. Lantai dua ruang khusus untuk flu burung tersebut diisi setidaknya delapan pasien umum dengan penyakit tropik. Namun, sejak Selasa (9/10) kemarin, delapan pasien tropik yang dirawat di Ruang Nusa Indah dievakuasi, masing-masing ke Ruang Mawar (4 orang) dan Ruang Lely (4 orang).

Menurut Kasi Yanmed Rawat Inap RS Sanglah dr. Darwini, meskipun ruang Nusa Indah terisi pasien, tetapi yang diperbolehkan hanya lantai II. Kalau di lantai dasar dikhususkan untuk pasien flu burung. Jadi tidak boleh diisi agar tetap steril,” ujarnya. (san)

10
Okt
07

Diwawancarai ”Network Ten” Australia — Bupati Badung Jelaskan Pengamanan Wilayah Pascabom

Denpasar (Bali Post) –
Jaminan
keamanan merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi warga negara Australia saat berkunjung ke Indonesia khususnya di Bali dan Kabupaten Badung. Terkait hal tersebut, Network Ten, salah satu TV swasta dari Australia ingin mengetahui upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkab Badung dalam meningkatkan keamanan di wilayahnya pascabom tahun 2002 dan 2005 lalu.

Kedatangan kru Network Ten yang terdiri atas reporter Embar Muir dan kamerawan Dean Folkner diterima Bupati Badung A.A. Gde Agung, S.H. didampingi Kepala Badan Kesbang Linmas I.B. Yoga Segara, S.H., Kepala Kantor Intel Drs. I Ketut Karpiana dan Kabag Humas dan Protokol Drs. I Putu Eka Merthawan, M.Si. di ruang kerjanya, Selasa (9/10) kemarin.

Dalam wawancaranya, Bupati Gde Agung menyampaikan tragedi bom itu telah mengguncang sendi-sendi kehidupan masyarakat yang sangat mengandalkan ekonomi pariwisata serta menurunkan citra keamanan Bali yang berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan ke Bali, khususnya Badung.

Namun pihaknya tidak ingin terlalu larut dengan adanya tragedi tersebut. Badung terus melakukan beberapa pembenahan di sektor keamanan, bekerja sama dengan masyarakat serta pihak kepolisian. Beberapa upaya yang dilakukan di antaranya penertiban administrasi kependudukan secara berkala untuk mencegah masuknya orang-orang ke Kabupaten Badung dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas. Selanjutnya atas bantuan pihak kepolisian, di beberapa desa terutama yang menjadi daerah tujuan wisata juga telah dibentuk Bantuan Keamanan Desa (Bankamdes).

Ditambahkan, Pemkab Badung menyadari modus pelaku kriminal semakin canggih dan tidak dapat ditanggulangi secara konvensional. Untuk itu telah diupayakan implementasi sistem pengamatan keamanan berbasis teknologi informasi dengan peletakan kamera-kamera CCTV pada 125 titik di Kecamatan Kuta, Kuta Utara dan Kuta Selatan yang merupakan daerah tujuan wisata di Kabupaten Badung.

Terkait persiapan menjelang pelaksanaan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim Global di Nusa Dua pada Desember mendatang, Pemkab Badung yang juga panitia pelaksana di tingkat nasional telah mempersiapkan berbagai kegiatan untuk mendukung suksesnya acara yang merupakan bagian dari upaya memulihkan citra Bali di dunia internasional. (kmb21/*)

10
Okt
07

Ratu Maduwe Gumi dan Maduwe Gama

Tuhan dalam Mantra Weda XXXII.3, dinyatakan tidak punya bentuk dan nama. Para vipra atau orang-orang bijak dan sucilah yang menyebutnya dengan banyak sebutan. Hal itu untuk memudahkan umat dalam menguatkan hidupnya untuk suatu tujuan mulia. Demikian juga umat awam pun akan menyebutkan berbagai kemahakuasaan Tuhan itu dengan berbagai sebutan sesuai dengan kemantapan hati nuraninya. Yang paling utama sebutan itu menyebabkan umat merasa Tuhan dekat dengan dirinya dan dapat didayagunakan untuk meningkatkan keyakinannya bahwa mereka merasa tertuntun oleh kesucian Tuhan untuk menyelenggarakan hidupnya menuju hidup yang makin baik

============================= 

Demikian juga di Pura Bukit Mentik di Batur Kintamani, Tuhan sebagai pencipta bumi ini disebut oleh umat Ida Batara Maduwe Gumi. Sedangkan Tuhan sebagai pencipta agama disebut Ida Batara Maduwe Gama. Karena dalam mantra Weda dan juga kitab-kitab Sastra Weda dinyatakan bahwa mantra-mantra Weda Sruti itu adalah sabda Tuhan atau non human origin. Artinya bukan berasal dari manusia.

Meskipun Pura Bukit Mentik diperkirakan sudah ada amat jauh sebelum zaman pemerintahan Ida Dalem Klungkung, para orang-orang bijak di Batur Kintamani itu sudah mampu menghadiri budaya religi dalam kemasan budaya lokal, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai universal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Tradisi di Pura Bukit Mentik amat nampak merupakan tradisi beragama sebelum Majapahit atau amat kuna, tetapi saat itu sudah berhasil menghasilkan budaya beragama Hindu yang universal dengan kemasan lokal Bali. Seperti istilah sebutan Tuhan sebagai Ida Batara Maduwe Gumi dan Maduwe Gama.

Menurut keterangan Jero Mangku Jenaka atau Jero Mangku Pupul, yang menjadi pemangku khusus di Pelinggih Ida Batara Maduwe Gama adalah Jero Wacik yang sekarang menjabat Menteri Budpar. Beliau diupacarai sebagai pemangku saat berumur delapan tahun pada tahun 1955. Sejak itulah beliau diberi gelar kepemangkuan sebagai Jero Wacik. Sebelumnya Jero Wacik punya nama kecil tersendiri karena belum disakralisasi sebagai pemangku di Pura Bukit Mentik itu.

Demikian Jero Mangku Jenaka menjelaskan yang juga kakak sepupunya Jero Wacik. Jero Mangku Jenaka sesungguhnya bergelar Jero Pupul. Kedua pemangku di Pura Bukit Mentik ini di samping memiliki tugas-tugas umum kepemangkuan di Pura Bukit Mentik juga ada tugas atau swadharma yang lebih khusus. Jero Mangku Jenaka diberi gelar Jero Pupul karena bertugas untuk mengumpulkan dengan cara-cara sakral pratima dan berbagai peralatan sakral di Pura Bukit Mentik di Pelinggih Balai Pesamuan saat ada upacara piodalan dan upacara-upacara besar lainnya. Sedangkan pemangku yang bergelar Jero Wacik bertugas untuk nibakan tirtha atau memercikkan tirtha melalui proses sakral menurut ketentuan keagamaan Hindu di Pura Bukit Mentik tersebut. Karena itulah gelarnya Jero Wacik. Demikian menurut keterangan Jero Mangku Jenaka, saudara sepupu Jero Wacik.

Demikianlah swadharma Jero Pupul atau Jero Mangku Jenaka dan Jero Wacik berbeda tetapi saling melengkapi dalam melakukan posisi ritual sakral di Pura Bukit Mentik. Tugas suci dua pemangku tersebut disertai oleh pemangku-pemangku lainnya yang juga sudah melalui proses sakralisasi. Juga banyak yang muda dari segi umur tetapi telah mendapatkan tuntunan dari pemangku yang lebih senior.

Kembali kita bahas pemujaan Tuhan sebagai Ida Batara Maduwe Gumi dan Ida Batara Maduwe Gama. Pemujaan Tuhan dalam sebutan demikian juga terdapat di Pura Tuluk Biyu, yang juga terdapat di sebelah selatan Pura Ulun Danu Batur di pinggir jalan menuju Singaraja.

Pura Ulun Danu Batur ini berkedudukan sebagai Kahyangan Jagat dalam kedudukannya sebagai Pura Rwa Bhineda dan Pura Padma Bhuwana. Di Pura Bukit Mentik juga ada Pesimpangan Batara Tiga yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur dan Ulun Batur. Pemujaan Ida Batara Maduwe Gumi dan Maduwe Gama ini patut menjadi renungan kita dalam menjaga Bali sebagai pulau kecil bagian dari NKRI.

Meskipun Bali pulaunya kecil tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan yang universal. Bumi ini yang terbangun dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta. Memuja Tuhan sebagai Ida Batara Maduwe Gumi, berarti tidak hanya mengaturkan sesaji dan mencakupkan tangan. Tetapi harus dilanjutkan dengan memelihara dan melindungi unsur-unsur Panca Maha Bhuta itu agar senantiasa seimbang sehingga dapat eksis secara alami menjadi sumber yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup isi bumi ini.

Sarasamuscaya 135 mengajarkan bahwa manusia baru akan dapat menegakkan tujuan hidupnya mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksha apabila terlebih dahulu manusia itu melakukan Bhuta Hita. Bhuta Hita artinya menyejahterakan alam. Selanjutnya memuja Tuhan sebagai Ida Batara Maduwe Gama artinya bagaimana kita sebagai umat manusia dapat mengimplementasikan agama sabda Tuhan itu menjadi sistem religi yang mampu menjadi landasan moral dan mental pada sistem budaya yang lainnya, sehingga semua sistem budaya itu dapat berperan mengantarkan umat manusia hidup semakin baik, sejahtera dan bahagia.

Prof. Dr. Koentjaraningrat menyatakan ada tujuh sistem budaya yaitu sistem religi, sistem sosial, sistem ilmu pengetahuan, sistem bahasa, sistem seni, sistem mata pencaharian dan sistem teknologi. Prof. Dr. Koentjaraningrat juga menyatakan bahwa hendaknya sistem religilah yang menjadi landasan moral dan mental dalam mengimplementasikan sistem budaya yang lainnya.

Karena itu menjadi kewajiban kita umat beragama untuk menjabarkan lebih lanjut agama sabda Tuhan yang supra empiris itu menjadi sistem religi yang lebih aplikatif dalam kehidupan yang empiris. Dengan demikian agama sabda Tuhan itu tidak menjadi nilai-nilai suci yang jauh dari kehidupan manusia, bahkan hanya untuk diagung-agungkan dalam ritual tanpa diaktualkan dalam memecahkan berbagai persoalan yang aktual dalam kehidupan individual dan sosial * wiana

sumber : Bali Post

10
Okt
07

Pura Bukit Mentik di Danau Batur

Tasyarthe Sarvabhutanam
goptaram
dharmamat majam.
Brahma tejomayam
dandam

Asrjat
purva isvarah.
(Manawa Dharmasastra VII.14).
 

Maksudnya:
Demi
untuk patuhnya masyarakat pada norma hidup yang baik, Tuhan telah menciptakan dharma sebagai anaknya untuk melindungi semua makhluk, itulah bentuk kejayaan dari dari Brahman.  

TUHAN menciptakan alam seperti bumi ini dengan segala isinya serta menciptakan tuntunan suci yang disebut dharma untuk menuntun kehidupan semua makhluk di bumi ini. Alam dan aturan suci itu sesungguhnya ciptaan dan milik Tuhan. Pura Bukit Mentik dekat Danau Batur terdapat dua Meru Tumpang Tiga berada di sebelah kiri Meru Tumpang Lima yang merupakan pelinggih utama di Pura Bukit Mentik.

Di Meru Tumpang Lima itu dipuja Dewa Danuh yang di Pura Bukit Mentik disebut Ida Ratu Ayu Sembah Suhun. Demikian Jero Mangku Jenaka atau Jero Mengku Pupul menjelaskan. Dua Meru Tumpang Tiga di sebelah kiri Meru Tumpang Lima pelinggih utama di Pura Bukit Mentik itu adalah sebagai stana Ida Ratu Maduwe Gumi dan Ida Ratu Maduwe Gama. Dua Meru Tumpang Tiga di sisi kiri Pelinggih Utama Meru Tumpang Tiga ini memberikan suatu visualisasi untuk memotivasi umat Hindu agar menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan itulah yang memiliki bumi yang diciptakan-Nya. Ini juga sebagai tempat umat manusia hidup dan mengembangkan kehidupannya mewujudkan cita-citanya.

Meru Tumpang Lima stana Dewi Danu yang diberi sebutan Ida Ratu Ayu Sembah Suwun tiada lain adalah pemujaan Tuhan yang bercorak Waisnawa untuk memotivasi umat manusia memahami bahwa air sebagai pelindung dan pemelihara hidup dan kehidupan semua makhluk hidup di bumi ini. Air sebagai Ratna Permata Bumi adalah ciptaan Tuhan yang merupakan unsur mutlak harus ada dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Di setiap pemukiman. Hal ini dinyatakan dalam Chanakya Nitisastra 1.9.

Demikian juga di dalam pemelihara dan perlindungan mata air seperti danau dan sungai ciptaan Tuhan itu merupakan salah satu unsur Sad Kerti yang wajib untuk melindungi bagi manusia yang mendambakan hidup sejahtera. Air akan selalu ada dan terus eksis memberikan hidup dan kehidupan umat manusia apabila bumi yang juga ciptaan Tuhan dipelihara dengan baik sebagai suatu wujud bakti pada Tuhan.

Pedoman untuk memelihara bumi sumber air itu, Tuhan telah menurunkan dharma. Nampaknya konsep hidup dalam memuja Tuhan seperti itulah yang divisualisasikan secara sakral di Pura Bukit Mentik di dekat Danau Batur, Kintamani. Di depan Meru Tumpang Lima terdapat Balai Pesamuan sebagai media yang memvisualisasikan saat Ida Ratu Ayu di Meru Tumpang Lima itu tedun menerima persembahan umat saat ada upacara umum setiap hari raya keagamaan Hindu dan terutama saat ada upacara Pujawali.

Ini artinya saat Ida Ratu Sembah Suhun di alam Suksma atau Sunia Loka disimbolkan berstana di Meru Tumpang Lima. Sedangkan saat beliau ke bumi di alam Wahya dilukiskan di Pelinggih Balai Pesamuan. Karena itu upacara Masineb atau Ngeluhur beliau kembali di Pelinggih Meru Tumpang Lima. Karena Meru itu lambang Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

Tumpang-tumpang Meru pinaka uriping bhuwana muah patalaing bhuwana. Artinya tumpang-tumpang Meru itu lambang jiwa alam semesta dan juga lambang lapisan alam semesta. Bumi adalah alam yang paling dekat dengan manusia. Bumi ini akan menjadi tempat hidup untuk mengembangkan kehidupan mulia apabila dipelihara dengan spiritual agama sabda Tuhan dan ilmu hasil pengembangan para ahli seperti para Resi.

Oleh karena itu ada Meru Tumpang Tiga di sebelah kiri Meru Tumpang Lima sebagai stana Ida Ratu Maduwe Gama. Ini berarti untuk menata bumi ini hendaknya didasarkan pada petunjuk-petunjuk agama yang dikembangkan menjadi berbagai ilmu oleh para Vipra atau orang-orang bijaksana. Kalau dua hal itu terpadu maka perbukitan yang ada di sekitar Gunung Batur itu akan tumbuh menjadi sumber pengembangan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar.

Hal inilah yang mungkin mengapa pura tersebut diberi nama Pura Bukit Mentik atau pura untuk menumbuhkan bukit itu menjadi bukit yang subur makmur. Pura Bukit Mentik ini sebagaimana Pura-pura Kahyangan Jagat lainnya juga memiliki Pura-pura Jajar Kemiri atau Pura Prasanak. Menurut Nyoman Lasteng dan Guru Nengah Suarta sebagai Paduluan Pura Bukit Mentik, ada sepuluh Pura Prasanak Pura Bukit Mentik yang ada di sekitar pura tersebut.

Pura Prasanak tersebut adalah Pura Ratu Gede Pemapas. Pura ini sebagai awal pemujaan untuk menuju Pura Bukit Mentik. Pura ini kemungkinan sebagai pemujaan Batara Gana sebagai Dewa Wighna-ghna tempat mohon Tirtha Pengelukatan agar jangan mendapatkan halangan dalam pejalanan menuju Pura Bukit Mentik sebagai puncak pemujaan.

Seterusnya Pura Belong stana Batara Ratu Mas Magelung. Pura Pandan Harus stana Masula Masuli, selanjutnya Pura Gua yang terletak di sebuah goa terbuka dengan wujud pelinggih mirip Lingga stana Sang Hyang Pasupati. Pemujaan Sang Hyang Pasupati sebagai media memuja Batara Siwa untuk menguasai sifat-sifat yang disebut Asuri Sampad agar sifat-sifat Dewi Sampad agar eksis mengendalikan hidup ini menuju pengembangan sifat-sifat kedewataan. Karena kecenderungan yang disebut Dewi Sampad dalam Bhagawad Gita akan membawa manusia berlaku mulia bagaikan Dewata.

Pura Prasanak selanjutnya adalah Pura Batu Kembang tempat pemujaan Ratu Mas Melanting dan Ratu Mas Muncar. Selanjutnya Pura Taru Alit sebagai stana Ratu Aji Luwih. Pura Jati sebagai stana Bujanggan Ida Batara. Juga sebagai Prasanak adalah Pura Ratu Subandar sebagai tempat pemujaan umat yang berprofesi sebagai pedagang. Pemujaan selanjutnya barulah menuju pemujaan puncak ke Pura Bukit Mentik.

Upacara Pujawali di Pura Bukit Mentik setiap Sasih Kapat. Sasih Kapat ini adalah sasih di mana alam menghadirkan musim untuk menumbuhkan (mentikan) berbagai tumbuh-tumbuhan bahan makanan, obat-obatan dan juga untuk memelihara tumbuhan yang disebut tanem tuwuh. Tumbuhan hutan sebagai pengayom lingkungan yang memiliki fungsi yang amat luas. Tumbuhan Tanem Tuwuh itu juga dibutuhkan ada di pusat-pusat pemukiman untuk mengurangi polusi udara. * I Ketut Gobyah

sumber : Bali Post