Arsip untuk Kategori 'Mother Earth'

09
Apr

Arang Sampah Organik Ciptaan Ujang

gambar-gambar diambil dari batubara70000014.com

Liputan6.com, Ciamis: Dedaunan, serabut kelapa, serbuk kayu, dan beberapa jenis sampah organik lain ternyata bisa bermanfaat sebagai bahan bakar alternatif. Adalah Ujang, warga Ciamis, Jawa Barat, yang mengolah sampah organik tersebut menjadi bahan bakar alternatif untuk kompor dalam bentuk briket arang. Alternatif bagi Anda yang kesulitan mendapatkan minyak tanah.

Kepada SCTV, belum lama ini, Ujang menguraikan pembuatan briket sampah organik itu. Semua sampah organik dimasukkan ke drum yang telah dibakar kemudian ditutup selama enam jam. Drum yang digunakan memang bukan sembarang drum melainkan sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa mengubah sampai menjadi arang.

Arang yang dihasilkan kemudian digiling menjadi serbuk. Setelah itu ditambah sedikit lem sebagai perekat lalu diaduk rata. Usai dicetak dalam bentuk balok, briket dijemur hingga kering. Selain ramah lingkungan, briket buatan Ujang ini tak mengeluarkan asap dan bebas jelaga.

Setelah melalui percobaan selama tujuh tahun, Ujang kini bisa memproduksi hingga 1 ton arang per hari. Harga yang ditawarkan pun cukup murah yakni hanya Rp 1.600 per kilogram.(TOZ/Eko Setyabudi)

sumber : Liputan6[dot]com

06
Apr

Teti Suryati, Guru Biologi yang Mempopulerkan Kompos

Liputan6.com, Jakarta: Sampah selalu menjadi masalah lingkungan. Namun sayangnya masih sedikit orang yang mau turun tangan menangani masalah sampah. Di antara sedikit orang itu adalah Teti Suryati, seorang guru Biologi di Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Jakarta Timur.

Sebagai seorang guru Biologi, Teti memiliki pengetahuan matang tentang mikroorganisme dan fermentasi yang terjadi dalam proses pembuatan kompos. Pengetahuan teori ini dikombinasikan dengan berbagai pelatihan hingga mendorongnya membuat gerakan memasyarakatkan pembuatan kompos.

Tidak jarang Teti terjun langsung untuk memberi contoh betapa mudahnya pengolahan kompos. Langkah pertama, sampah organik dan nonorganik dipilah. Sampah yang sudah dipotong-potong dicampur serbuk gergaji dengan perbandingan satu banding dua untuk menyerap air. Selanjutnya campuran ditaburkan dedak dan air gula atau molase untuk menciptakan proses fermentasi sampah.

Di laboratorium sekolah, murid-muridnya diberikan mata pelajaran khusus mengenai pembuatan kompos. Bukan hanya sebatas teori, praktik pembuatan kompos juga dilakukan. Maka tidak heran, lingkungan SMAN 12 Jaktim menjadi hijau dan asri. Teti juga menularkan kemampuan untuk masyarakat di lingkungannya. Hasilnya, wilayah Rukun Warga 15 Klender tidak hanya bersih, tapi juga hijau dan asri. RW 15 pun berhasil meraih predikat Juara Bersih Nasional 2007.

Peran Teti dalam membersihkan lingkungan dengan membuat kompos membuatnya terkenal di kalangan masyarakat luas. Ia sering diundang ke berbagai daerah di Tanah Air oleh Kementerian Lingkungan Hidup guna berbagi ilmu membuat kompos. Teti membuktikan setinggi apa pun pengetahuan yang dimiliki tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Keteladanan sekecil apa pun lebih berharga dan masuk di hati masyarakat. Dan yang terpenting, kelestarian lingkungan menjadi lebih terjaga.(YNI/Tim Liputan 6 SCTV)

sumber : Liputan[dot]com

05
Mar

Hiasan Hewan nan Indah dari Limbah Kaleng

Liputan6.com, Magelang: Ide memulai sebuah usaha bisa datang dari suatu ketidaksengajaan. Inilah yang dialami Kusnodin, warga Ngadirejo, Magelang, Jawa Tengah. Pria ini membuka usaha kerajinan berbahan kaleng bekas berawal dari ulah tikus pada 1986. Lanjutkan membaca ‘Hiasan Hewan nan Indah dari Limbah Kaleng’

05
Mar

Batik Bekas Hasilkan Laba Tinggi

Liputan6.com, Jakarta: Jangan pernah menyepelekan barang-barang bekas. Sekilas memang seperti barang-barang tidak berguna. Namun bila jeli, justru barang-barang bekas itu menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Hal ini dibuktikan Lina, warga Bibis, Solo, Jawa Tengah. Dia memanfaatkan kain batik bekas untuk bahan pembuatan karpet dan bed cover. Lanjutkan membaca ‘Batik Bekas Hasilkan Laba Tinggi’

11
Feb

Menyulap Limbah Kok menjadi Asesoris Cantik

Liputan6.com, Malang: Keberadaan limbah di sekitar kita seringkali luput dari perhatian. Tapi tidak demikian halnya dengan Abdullah. Warga Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini justru melihat limbah adalah tantangan sebagai peluang usaha. Dia mengolah limbah kok untuk dijadikan pernak-pernik berbentuk kupu-kupu, capung, dan burung merak. Lanjutkan membaca ‘Menyulap Limbah Kok menjadi Asesoris Cantik’

11
Feb

Menuai Bencana Reklamasi

Liputan6.com, Jakarta: Setelah sempat tersendat, reklamasi Pantai Utara Jakarta mulai direalisasikan tahun ini. Megaproyek yang mencaplok kawasan pesisir Ibu Kota seluas 2.700 hektare ini sedianya ditujukan sebagai solusi ketersediaan lahan di Kota Jakarta yang makin tidak seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk. Namun, perjalanan reklamasi sejak perencanaan hingga kini tidaklah mulus. Banyak kontroversi dan kritikan yang menyertainya. Lanjutkan membaca ‘Menuai Bencana Reklamasi’

24
Jan

Memanfaatkan Limbah Tahu Menjadi Biogas

Liputan6.com, Magelang: Tidak hanya merugi akibat tingginya harga kedelai, kini produsen tahu juga kesulitan memperoleh minyak tanah. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka memanfaatkan limbah tahu sebagai bahan bakar biogas untuk proses membuat tahu. Hal itu yang kini dilakoni Teguh, seorang produsen tahu di Magelang, Jawa Tengah. Lanjutkan membaca ‘Memanfaatkan Limbah Tahu Menjadi Biogas’

17
Jan

Masalah Pemburuan Paus—-Tokyo dan Canberra Memanas

picture by Rileks.com

Sydney - Sengketa sengit antara pemburu ikan paus Jepang dengan militan aktivis antipemburuan paus di perairan dingin Antartika, kini malah merembet menuju ketegangan diplomatik. Baik pemerintah Jepang maupun Australia sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing, hingga konflik paus bisa saja merenggangkan hubungan keduanya, Rabu (16/1) kemarin. Lanjutkan membaca ‘Masalah Pemburuan Paus—-Tokyo dan Canberra Memanas’

15
Jan

Soal Pencemaran Danau Batur — Pemerintah mesti Turun Tangan

 

Bangli (Bali Post) -
Pemerintah
mesti segera turun tangan untuk mengatasi persoalan adanya pencemaran Danau Batur, Bangli. Masalahnya, pencemaran itu tidak saja akibat pestisida, juga dampak dari pemanfaatan danau secara berlebihan seperti pengembangan perikanan, pariwisata, kebutuhan air untuk sehari-hari masyarakat sampai tempat memandikan ternak. Semua itu sedikit tidaknya mengandung bahan kimia. Lanjutkan membaca ‘Soal Pencemaran Danau Batur — Pemerintah mesti Turun Tangan’